Puasa 1435 H dan Toleransi

Assalamu’alaikum

Marhaban ya Ramadan, selamat menunaikan ibadah puasa bagi saudara muslim seluruh dunia. Ada yang menarik dari Ramadan 1435 H. Apa itu? Ya, di dalam bulan Ramadan tahun ini kita rakyat Indonesia akan memilih RI-1, presiden Indonesia untuk lima tahun kedepan.  9 Juli nanti (12/13 Ramadan 1435 H) kita akan memilih pemimpin yang kita harapkan membawa Indonesia menuju Indonesia yang adil makmur sejahtera, “baldatun thoyyibatun wa rabbun ghafur”. Memilih pemimpin di bulan suci, semoga pilihan menjadi berkah, kita kuatkan doanya. Semoga pemimpin yang terpilih nanti bisa sidiq (jujur), amanah (memegang amanat), fathanah (cerdas), dan tablig (menyampaikan).

Ramadan tahun ini,di Indonesia kita dihadapkan pada kenyataan awal puasa yang tidak bareng, khususnya terdapat dua kelompok besar yakni awal puasa versi Majlis Tarjih Muhammadiyah dan versi pemerintah. Muhammadiyah dengan hisab wujudul hilalnya telah menetapkan bahwa 1 Ramadan 1435 H jatuh pada Sabtu, 28 Juni 2014 M dan 1 Syawal 1435 H jatuh pada 29 Juli 2014 M. Sementara pemerintah, dalam hal ini kementerian agama melakukan sidang isbat pada 27 Juni 2014 menyatakan bahwa di nusantara belum terlihat hilal dengan metode rukyat, oleh karenanya bulan Sya’ban digenapkan menjadi 30 hari (isti’mal) sehingga 1 Ramadan 1435 H jatuh pada Minggu, 29 Juni 2014. Bagaimana menyikapinya?

UUD 1945, konstitusi kita telah menjamin kebebasan beragama dan menjalankan agama sesuai keyakinan masing2 (tertuang dalam pasal 29 ayat 2 UUD 1945). Redaksinya “Negara menjamin kemerdekaan tiap-tiap penduduk untuk memeluk agamanya masing-masing dan untuk beribadat menurut agamanya dan kepercayaannya itu”. Artinya negara memberikan jaminan kepada setiap warga negara untuk mengekspresikan agamanya, beribadat sesuai agamanya, salah satunya puasa. Negara menjamin dan melindungi warga negara untuk menjalankan perintah agama sesuai ajaran agama yang dianut. Negara tida bisa mengintervensi keyakinan warga negaranya. Oleh karenanya, memulai ibadah puasa mengikuti Muhammadiyah atau pun pemerintah itu dilindungi oleh UUD. Perbedaan di kalangan intern umat beragama ini sudah selayaknya disikapi dengan tenggang rasa dan toleransi, bukan ajang saling menyalahkan dan mengklaim kebenaran. Seperti sholat subuh ada yang pakai qunut ada yang tidak, sholat taraweh ada yang 23 rakaat ada yang 11 rakaat, seperti doa iftitah ada yang pakai “allahumma ba’id baini…” atau “allahu akbar kabiran…”. Perbedaan ini pada level istinbath hukum (metode pengambilan hukum), bukan pada pokok agama (ushuliyah).

 Perbedaan awal puasa di Indonesia bukanlah hal yang baru bagi kita, 2 tahun yang lalu kita pun mengalami hal yang sama dan tidak ada masalah. Jangan sampai gegara beda awal puasa justru malah saling bermusuhan karena menganggap diri sendiri paling benar serta menyalahkan yang lain. “Innamal mu’mina ikhwah…” – “sesungguhnya orang orang mukmin (beriman) itu saudara”, sesama Islam adalah saudara dan perbedaan fiqh tidak akan memecah kita, karena kita adalah satu yakni Islam. Saudara yang dipertemukan karena iman. Mari kita kedepankan sikap “tepo sliro” dan “tenggang roso”.

 Pada akhirnya kita menyadari baik yang mulai puasa tanggal 28 juni atau yang mulai 29 Juni, itu tetap dihitung mulai 1 Ramadan 1435 H, hehe. Ramadan tahun ini yuk kita jadikan sebagai momen untuk menempa diri, introspeksi diri, meiningkatkan kualitas iman dan taqwa. Seperti kepompong, saat ia menetas kan jadi kupu-kupu nan indah, muslim berpuasa hingga hari kemenangan kita kan jadi musim yang bertaqwa.

Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertaqwa.” (QS. Al-Baqarah : 183)

 Gambar

sumber: twitter

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s